
- Fokus Pembelajaran: Mengaktifkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah siswa, berlandaskan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan.
- Integrasi ISMUBA: Menjadikan ISMUBA sebagai ruh pendidikan yang terintegrasi dalam kegiatan harian (pembiasaan, Hizbul Wathan, Tapak Suci), bukan hanya mata pelajaran terpisah.
- Paradigma, Bukan Kurikulum Baru: Deep Learning adalah paradigma atau pendekatan pembelajaran yang bisa diterapkan di berbagai kurikulum (termasuk Kurikulum Merdeka), bukan kurikulum pengganti.
- Pembelajaran Aktif: Mengedepankan praktik harian (70% implementasi) dan pembiasaan, dengan tatap muka teori (30%).
- Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning): Menghubungkan materi ISMUBA dengan kehidupan nyata siswa.
- Pembelajaran Sadar (Mindful Learning): Mengaktifkan kesadaran dan kemampuan berpikir kritis siswa.
- Pembelajaran Menyenangkan (Joyful Learning): Menciptakan suasana belajar yang positif dan memotivasi.
- Pengembangan Guru: Pelatihan intensif bagi guru untuk mampu menyusun perangkat ajar dan menerapkan pendekatan ini.
Dengan pelaksanaan deep learning ISMUBA ini, Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY berharap guru ISMUBA semakin siap menghadapi tantangan pendidikan modern. Serta menjaga peran strategis ISMUBA sebagai ruh pendidikan Muhammadiyah dalam melahirkan generasi yang beriman, berpengetahuan, dan berkarakter.
“Perubahan terus berjalan, kalau kita tidak beradaptasi maka akan tertinggal. ISMUBA harus tetap menjadi jantung pendidikan Muhammadiyah. Untuk itu guru-guru wajib meningkatkan kapasitas diri agar pembelajaran lebih relevan dengan kebutuhan zaman,” Harap Lailan.
Integrasi Ilmu dan Keteladanan Nabi Muhammad Saw.
Wakil Ketua PWM DIY, H. Gita Danu Pranata dalam arahannya menekankan pentingnya adaptasi guru ISMUBA terhadap perkembangan teknologi digital. Menurutnya, realitas pendidikan saat ini tidak bisa dilepaskan dari teknologi dan tantangan global.
“Kita sudah masuk era digital, sehingga guru harus mampu mengoptimalkan pemanfaatan teknologi. Namun, teknologi bukan tujuan utama, melainkan alat untuk menjadikan pembelajaran ISMUBA lebih berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan bagi murid,” ungkap Ketua Dikdasmen PNF PWM DIY itu.
Pihaknya menekankan, pembelajaran ISMUBA harus diarahkan untuk melahirkan generasi emas Muhammadiyah yang tidak hanya religius, tetapi juga berdaya saing.
“Kader yang kita hasilkan harus beriman, berpengetahuan luas, berakhlak mulia, dan mampu menjadi pemimpin perubahan positif di masyarakat. Mereka juga harus berkomitmen memperjuangkan kebenaran dan keadilan,” tegas Gita.
Lebih lanjut, Gita juga menyoroti pentingnya integrasi ilmu pengetahuan dengan ajaran Islam. Ia mencontohkan bagaimana sosok Nabi Muhammad Saw. dapat dipelajari dari berbagai perspektif kehidupan.
“Seringkali murid hanya melihat Nabi dalam konteks peperangan. Padahal sejak usia muda, Nabi sudah menunjukkan teladan dalam aspek keluarga, ekonomi, hingga kepemimpinan. Jika hari ini beliau hidup, Nabi bisa kita sebut sebagai sosok pemimpin sekaligus CEO visioner,” jelasnya.
Menurut Gita, integrasi ini penting agar pembelajaran ISMUBA tidak berhenti pada aspek ritual ibadah semata, tetapi juga menyentuh dimensi sosial, ekonomi, dan muamalah yang lebih luas.
Dalam penutupnya, Gita mengingatkan pentingnya menjaga moderasi beragama (wasathiyah) dalam pembelajaran ISMUBA.
“Muhammadiyah menganut jalan tengah, bukan ekstrem kanan maupun kiri. Tantangan kita adalah bagaimana menyampaikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin dengan tidak kaku, tetapi tetap tegas dalam prinsip. Guru ISMUBA harus mampu mengawal nilai moderasi ini di sekolah/madrasah Muhammadiyah,” pesannya.
Visi Peradaban dan Karakter Muhammadiyah
Terpisah, Ketua Majelis Dikdasmen-PNF PWM DIY, Achmad Muhamad menegaskan bahwa paradigma pembelajaran mendalam bukan sekadar perubahan administratif, melainkan transformasi substansial dalam pendidikan.
“Ketika bicara perubahan paradigma pembelajaran yang ditawarkan pemerintah melalui pembelajaran mendalam, maka pendidikan ISMUBA justru harus menjadi garda terdepan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan paradigma pembelajaran mendalam ini di proses pembelajaran dan pendidikan di sekolah-madrasah kita,” kata Achmad saat penutupan TOT Deep Learning ISMUBA.
Ia menekankan bahwa kegiatan TOT ini sangat strategis dan harus ditindaklanjuti dengan pengembangan di masing-masing daerah untuk semua jenjang sekolah/madrasah Muhammadiyah DI Yogyakarta.
“Formulasinya bagaimana, tentu kita diskusikan bersama. Kita koordinasikan dengan MGMP dan juga Majelis Dikdasmen PNF daerah masing-masing. Kami tidak mungkin lepas tanggung jawab, tapi juga perlu koordinasi,” tegasnya.
Dalam mencapai visi pendidikan Muhammadiyah, pihaknya mengingatkan pentingnya menjaga karakter organisasi yang adaptif terhadap perubahan. Sebagaimana watak Muhammadiyah yang modern mengharuskan organisasi untuk tidak bersikap a priori terhadap perubahan dan hal-hal baru.
“Watak Muhammadiyah, watak modern itu terhadap perubahan, terhadap sesuatu yang baru tidak a priori. Tetap menjaga dan merawat hal lama yang bagus. Tapi ketika terjadi perubahan, ada sesuatu baru yang lebih baik, itu mesti kita respons dengan terbuka,” terang Achmad.
Achmad menyebut, pembelajaran yang baik itu muaranya adalah membangun peradaban yang lebih baik. “Sebagaimana Muhammadiyah yang meneladani Rasulullah ketika menyebarkan Islam: mudahkan, jangan mempersulit. Gembirakan, jangan bikin susah,” pungkasnya.
sumber : klik sini





